KKBEKSPRES – Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, resmi memperkenalkan lini flagship terbarunya, Samsung Galaxy S26, dengan strategi penggunaan dua chipset berbeda. Pada generasi ini, perusahaan mengombinasikan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy dan chipset internal Exynos 2600 untuk menghadirkan performa kelas premium.
Langkah ini sekaligus menegaskan strategi dual-chipset yang kembali diterapkan Samsung guna menyesuaikan kebutuhan pasar global serta menjaga efisiensi produksi.
Strategi Dual Chipset di Galaxy S26 Series
Dalam skema distribusinya, Samsung Galaxy S26 Ultra secara eksklusif dibekali Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy. Sementara itu, Samsung Galaxy S26 Plus dan model reguler Galaxy S26 hadir dengan Exynos 2600 di sejumlah wilayah tertentu.
Pendekatan ini memungkinkan Samsung menyeimbangkan performa, biaya produksi, serta ketersediaan perangkat di berbagai negara.
Benchmark CPU: Snapdragon Unggul Sekitar 10 Persen
Berdasarkan hasil uji awal menggunakan Geekbench 6, Galaxy S26 Ultra dengan Snapdragon mencatat skor:
- Single-core: 3.670 poin
- Multi-core: 10.981 poin
Sebagai pembanding, Galaxy S26 Plus dengan Exynos 2600 memperoleh:
- Single-core: 3.105 poin
- Multi-core: 10.444 poin
Dari hasil tersebut, Snapdragon menunjukkan keunggulan performa CPU sekitar 10 persen dibandingkan Exynos 2600.
Pengujian tambahan memperlihatkan pola yang konsisten. Snapdragon mencatat skor single-core 3.724 dan multi-core 11.237, sedangkan Exynos 2600 meraih 3.197 dan 11.012 poin. Ini mengindikasikan Snapdragon masih sedikit lebih unggul dalam menangani tugas berat dan multitasking intensif.
Performa GPU: Selisih Tipis
Meski tertinggal di sektor CPU, Exynos 2600 menunjukkan daya saing yang cukup kuat dalam performa grafis. Pada pengujian OpenCL, Exynos mencatat skor 24.240 poin, sedikit di atas Snapdragon yang memperoleh 24.152 poin.
Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan GPU kedua chipset relatif seimbang, terutama untuk kebutuhan gaming dan pemrosesan grafis berat.
Exynos 2600 Tunjukkan Peningkatan Signifikan
Pada seri sebelumnya, chipset Exynos kerap tertinggal cukup jauh dari Snapdragon dalam berbagai pengujian performa.
Kini, melalui Exynos 2600, Samsung berhasil memangkas jarak performa, terutama pada pengujian multi-core dan grafis. Hal ini menunjukkan upaya serius perusahaan dalam mengembangkan chipset internal agar mampu bersaing dengan solusi dari Qualcomm. Hasil ini masih bersifat awal dan belum sepenuhnya menggambarkan performa dalam penggunaan jangka panjang.
Masih Butuh Pengujian Lanjutan
Para analis industri menilai perbandingan kedua chipset akan semakin jelas setelah uji coba penggunaan sehari-hari dilakukan secara menyeluruh. Aspek seperti gaming berat, pemrosesan AI, konsumsi baterai, hingga performa berkelanjutan dalam waktu lama akan menjadi indikator utama.
Hasil awal ini setidaknya menunjukkan Samsung terus memperkuat pengembangan chipset internalnya tanpa mengorbankan performa lini smartphone premiumnya.











