KBB EKSPRES – Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Neuropsychopharmacology mengungkap bahwa hubungan antara tidur, kafein, dan fungsi otak ternyata tidak sesederhana yang selama ini dipahami terutama ketika seseorang mengalami kurang tidur.
Dilansir dari Eating Well, studi ini melibatkan 119 tikus yang diberi akses normal terhadap makanan, air, serta siklus tidur alami. Para peneliti ingin mengetahui bagaimana kurang tidur memengaruhi memori sosial, serta apakah kafein dapat membantu mengatasinya.
Fokus utama penelitian ini adalah hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori. Hasilnya menunjukkan bahwa kurang tidur berdampak negatif pada fungsi otak, khususnya dalam proses pembentukan memori.
Tikus yang mengalami kurang tidur diketahui mengalami penurunan aktivitas di hipokampus. Selain itu, terjadi peningkatan kadar reseptor adenosin A1 dimana zat yang berkaitan dengan rasa kantuk dan penurunan aktivitas neuron.
Dampak Kafein
Menariknya, pemberian kafein dalam penelitian ini mampu membalikkan sebagian besar efek negatif tersebut. Tikus yang mendapat asupan kafein menunjukkan peningkatan fungsi otak serta performa memori sosial, meskipun dalam kondisi kurang tidur.
Secara mekanisme, kafein bekerja sebagai antagonis reseptor adenosin. Artinya, kafein menghambat adenosin senyawa yang menumpuk di otak sepanjang hari dan memicu rasa kantuk untuk berikatan dengan reseptornya. Dengan demikian, aktivitas otak tetap terjaga dan rasa waspada meningkat.
Meski hasilnya menjanjikan, penting untuk dicatat bahwa penelitian ini masih terbatas pada hewan percobaan. Dosis kafein dan kondisi eksperimen belum tentu dapat diterapkan langsung pada manusia.
Namun demikian, beberapa studi pada manusia menunjukkan hasil yang sejalan. Konsumsi kafein, terutama di pagi hari, dikaitkan dengan peningkatan kinerja dalam tugas yang melibatkan perhatian dan memori. Bahkan, penelitian observasional berskala besar juga menemukan hubungan antara konsumsi kafein dan peningkatan fungsi kognitif, termasuk memori dan kemampuan eksekutif.
Tidur Masih Jadi Faktor Utama
Temuan ini kembali menegaskan bahwa tidur tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan otak. Meskipun kafein dapat membantu mengurangi dampak kurang tidur dalam jangka pendek, perannya tidak dapat menggantikan tidur yang cukup dan berkualitas.
Dengan kata lain, secangkir kopi memang bisa membantu meningkatkan fokus setelah begadang, tetapi bukan solusi jangka panjang untuk menjaga fungsi otak tetap optimal.
Untuk menjaga kualitas tidur, penting menerapkan jadwal tidur yang konsisten dengan waktu tidur dan bangun yang sama setiap hari. Selain itu, membatasi penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur, memperbanyak aktivitas di luar ruangan pada siang hari, serta melakukan aktivitas relaksasi seperti membaca atau mendengarkan musik juga dapat membantu tubuh beristirahat lebih baik.
Tak kalah penting, perhatikan waktu konsumsi kafein. Mengonsumsi kopi di malam hari berpotensi mengganggu pola tidur dan menurunkan kualitas istirahat.***







