KAMMI Jawa Barat dan Digdaya Dorong Pembangunan Inklusif melalui Diskusi “Jawa Barat Development Outlook”

Penulis: Rosyidah K Bariyyah

KBB EKSPRES — Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia bersama Digdaya Indonesia dan Riset Resilien Nusantara menyelenggarakan forum diskusi strategis bertajuk “Jawa Barat Development Outlook: Menyelaraskan Grand Design Nasional, Daerah, dan Aspirasi Publik”. Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara pemerintah, akademisi, dan elemen gerakan kepemudaan dalam membaca arah pembangunan Jawa Barat menuju 2045.

Diskusi menghadirkan perwakilan Bappeda Provinsi Jawa Barat, Bapak Ryan, akademisi sekaligus Tim Ahli Riset Resilien Nusantara Bapak Delpiero Hegelian, serta Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Aam Izus Salam.

Dalam pemaparannya, pihak Bappeda menegaskan bahwa Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan pembangunan yang kompleks, mulai dari tingginya pengangguran akibat mismatch antara pendidikan dan kebutuhan industri, ketimpangan wilayah utara dan selatan, persoalan kemiskinan, hingga ancaman krisis lingkungan dan urbanisasi yang tidak terkendali. Namun di sisi lain, Jawa Barat juga memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak Indonesia Emas 2045 melalui penguatan kualitas SDM, investasi produktif, dan pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Delpiero Hegelian menyoroti bahwa Jawa Barat merupakan “cermin masa depan Indonesia”. Menurutnya, seluruh paradoks pembangunan nasional hadir secara nyata di Jawa Barat: pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi belum sepenuhnya menghadirkan keadilan sosial, industrialisasi yang maju namun menyisakan ketimpangan spasial, hingga pembangunan yang kerap berbenturan dengan daya dukung lingkungan.

“Pembangunan tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi dan proyek fisik semata, tetapi harus diukur dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan keadilan, kualitas hidup yang lebih baik, dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Aam Izus Salam, menegaskan bahwa KAMMI Jawa Barat tidak ingin hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan daerah, tetapi hadir sebagai mitra kritis dan strategis pemerintah dalam menghadirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat.

“KAMMI Jawa Barat memandang bahwa pembangunan daerah membutuhkan partisipasi publik yang kuat dan berbasis kajian. Karena itu, kami mengambil langkah strategis dengan menghadirkan ruang diskusi seperti ini, sekaligus menyusun policy brief hasil kajian bersama akademisi dan peneliti untuk diberikan kepada Bappeda Jawa Barat sebagai bahan acuan dan literatur dalam merumuskan arah pembangunan Jawa Barat ke depan,” ujar Aam Izus Salam.

Ia juga menambahkan bahwa generasi muda harus dilibatkan secara substantif dalam pembangunan, bukan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek yang aktif merumuskan masa depan daerahnya.

Forum ini menghasilkan sejumlah catatan penting, di antaranya perlunya reformasi tata kelola pembangunan yang lebih kolaboratif, penguatan sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, revitalisasi pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri, penguatan pembangunan wilayah selatan Jawa Barat, serta pentingnya paradigma pembangunan yang people-centered dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia berharap dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil dalam mewujudkan Jawa Barat yang maju, inklusif, dan berkeadilan sosial menuju Indonesia Emas 2045.

Bandung 23 Mei 2026 — Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia bersama Digdaya Indonesia dan Riset Resilien Nusantara menyelenggarakan forum diskusi strategis bertajuk “Jawa Barat Development Outlook: Menyelaraskan Grand Design Nasional, Daerah, dan Aspirasi Publik”. Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara pemerintah, akademisi, dan elemen gerakan kepemudaan dalam membaca arah pembangunan Jawa Barat menuju 2045.

Diskusi menghadirkan perwakilan Bappeda Provinsi Jawa Barat, Bapak Ryan, akademisi sekaligus Tim Ahli Riset Resilien Nusantara Bapak Delpiero Hegelian, serta Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Aam Izus Salam.

Dalam pemaparannya, pihak Bappeda menegaskan bahwa Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan pembangunan yang kompleks, mulai dari tingginya pengangguran akibat mismatch antara pendidikan dan kebutuhan industri, ketimpangan wilayah utara dan selatan, persoalan kemiskinan, hingga ancaman krisis lingkungan dan urbanisasi yang tidak terkendali. Namun di sisi lain, Jawa Barat juga memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak Indonesia Emas 2045 melalui penguatan kualitas SDM, investasi produktif, dan pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Delpiero Hegelian menyoroti bahwa Jawa Barat merupakan “cermin masa depan Indonesia”. Menurutnya, seluruh paradoks pembangunan nasional hadir secara nyata di Jawa Barat: pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi belum sepenuhnya menghadirkan keadilan sosial, industrialisasi yang maju namun menyisakan ketimpangan spasial, hingga pembangunan yang kerap berbenturan dengan daya dukung lingkungan.

“Pembangunan tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi dan proyek fisik semata, tetapi harus diukur dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan keadilan, kualitas hidup yang lebih baik, dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Aam Izus Salam, menegaskan bahwa KAMMI Jawa Barat tidak ingin hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan daerah, tetapi hadir sebagai mitra kritis dan strategis pemerintah dalam menghadirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat.

“KAMMI Jawa Barat memandang bahwa pembangunan daerah membutuhkan partisipasi publik yang kuat dan berbasis kajian. Karena itu, kami mengambil langkah strategis dengan menghadirkan ruang diskusi seperti ini, sekaligus menyusun policy brief hasil kajian bersama akademisi dan peneliti untuk diberikan kepada Bappeda Jawa Barat sebagai bahan acuan dan literatur dalam merumuskan arah pembangunan Jawa Barat ke depan,” ujar Aam Izus Salam.

Ia juga menambahkan bahwa generasi muda harus dilibatkan secara substantif dalam pembangunan, bukan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek yang aktif merumuskan masa depan daerahnya.

Forum ini menghasilkan sejumlah catatan penting, di antaranya perlunya reformasi tata kelola pembangunan yang lebih kolaboratif, penguatan sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, revitalisasi pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri, penguatan pembangunan wilayah selatan Jawa Barat, serta pentingnya paradigma pembangunan yang people-centered dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia berharap dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil dalam mewujudkan Jawa Barat yang maju, inklusif, dan berkeadilan sosial menuju Indonesia Emas 2045. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *